-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Banyak Persoalan, Pemko Tebing Tinggi Tak Usah Sibuk Membangun Pembelaan

Selasa, 19 Mei 2026 | Mei 19, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-19T12:31:56Z


Foto : Supriadi, S. HI

Menangg
api berbagai “permasalahan” yang belakangan mencuat di Kota Tebing Tinggi, kami memandang bahwa sebuah pemerintahan tidak perlu terlalu sibuk membangun pembelaan jika memang merasa tidak melakukan kesalahan. Yang jauh lebih penting adalah membuktikan kepada masyarakat bahwa setiap keputusan dan tindakan yang diambil benar-benar merupakan pilihan terbaik dari seluruh opsi yang dimiliki saat ini. 


Karena pada akhirnya, kepercayaan publik tidak dibangun melalui narasi semata, melainkan melalui keterbukaan, keberanian menjawab pertanyaan, serta kesungguhan dalam menyelesaikan persoalan.

Pemerintah seharusnya hadir dengan respon yang cepat, terbuka, dan menyambut baik setiap laporan masyarakat, terlebih jika laporan tersebut menyangkut indikasi hal-hal yang dapat memicu kemelut di dalam pemerintahan itu sendiri. Kritik tidak selalu lahir dari kebencian. Sering kali kritik muncul karena masih adanya harapan agar keadaan menjadi lebih baik.


Karena itu, jangan sampai muncul kesan anti kritik, apalagi jika ada indikasi upaya pembungkaman oleh “oknum” tertentu, baik melalui pernyataan, tekanan, maupun pendekatan-pendekatan yang bertujuan agar kritik berhenti di tengah jalan. Sebab kritik yang dibungkam tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah menjadi kekecewaan yang tumbuh diam-diam di tengah masyarakat.

Pemerintah tentu memahami bahwa jabatan selalu datang bersama risiko. Saran, kritik, bahkan hujatan adalah konsekuensi yang tidak dapat dipisahkan dari amanah yang dipilih dan diminta sendiri. Dan perlu diingat, setelah masa jabatan selesai, kita semua akan kembali menjadi bagian dari masyarakat yang hari ini sedang menilai, merasakan, dan mengawasi.


Namun untuk kita sebagai masyarakat, hak mengkritik juga harus dijaga kemurniannya. Jangan sampai kritik disusupi keinginan untuk dianggap paling pintar, paling berani, paling benar, atau bahkan demi mendapatkan keuntungan tertentu. Kritik yang lahir dari kepentingan pribadi akan mudah berhenti ketika hadir lobi, pujian, atau “sesuatu” yang membungkam suara itu sendiri.

Jangan pula mengkritik hanya karena sentimen pribadi. Pegang teguh bahwa tujuan kritik adalah memperbaiki apa yang dianggap salah, menyempurnakan apa yang masih kurang, dan membangun apa yang masih tertinggal di kota yang kita cintai ini. Sebab membangun daerah bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab moral seluruh masyarakatnya.


Dan sebagaimana pemerintah tidak boleh anti kritik, masyarakat pun harus siap dikritik ketika cara menyampaikan aspirasinya mulai kehilangan nilai keadaban, kejujuran, dan niat baik.
Pada akhirnya, kota ini tidak membutuhkan pihak yang paling keras suaranya, tetapi pihak-pihak yang paling tulus menjaga marwahnya. Karena kekuasaan tanpa kritik akan melahirkan kesewenang-wenangan, sementara kritik tanpa ketulusan hanya akan melahirkan kegaduhan.

Ayolah, baik pemerintah maupun masyarakat Kota Tebing Tinggi, kita sama-sama memahami bahwa ada hal yang jauh lebih besar dan lebih substansial daripada sekedar kepentingan individu ataupun golongan. Ada generasi yang sedang tumbuh dan menunggu arah dari kita semua.

Generasi yang adab dan moralnya perlu dijaga. Generasi yang harus diselamatkan dari derasnya arus narkoba, dari lunturnya kepedulian sosial, dari perpecahan yang terus dipelihara, dari kemiskinan yang diwariskan, hingga dari kebodohan yang dibiarkan tumbuh tanpa solusi nyata.

Kita semua sebenarnya tahu siapa musuh bersama hari ini. Bukan kritik. Bukan perbedaan pendapat. Bukan pula masyarakat atau pemerintah itu sendiri. Musuh kita adalah segala hal yang perlahan merusak masa depan kota ini: narkoba yang menghancurkan generasi, ego yang memecah persaudaraan, ketidakpedulian terhadap pendidikan, lemahnya kepedulian terhadap pembangunan, serta kebiasaan saling menjatuhkan demi kepentingan sesaat.

Maka jangan habiskan energi hanya untuk saling menyerang, sementara persoalan yang lebih besar terus tumbuh di depan mata. Sebab sejarah tidak akan bertanya siapa yang paling keras berdebat, tetapi siapa yang benar-benar mengambil peran saat kotanya membutuhkan keberanian, kejujuran, dan kepedulian.

Karena pada akhirnya, sebuah kota tidak hancur hanya karena banyaknya masalah, tetapi karena terlalu banyak orang baik yang sibuk saling menyalahkan hingga lupa berjalan bersama untuk menyelesaikannya.


Oleh Supriadi, S.HI 
Ketua ISARAH Kota Tebing Tinggi