Saya hanyalah manusia biasa. Seumur hidup, saya tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari Allah akan mengizinkan saya berdiri di Tanah Suci bukan hanya sebagai seorang jamaah, melainkan sebagai pelayan bagi tamu-tamu-Nya.
Tahun 2026 menjadi salah satu babak terpenting dalam hidup saya ketika dipercaya menjadi Petugas Haji Indonesia dan bergabung dalam Tim Safari Wukuf Lansia. Amanah tersebut bukan sekadar tugas, bukan pula pekerjaan yang selesai ketika jam pelayanan berakhir. Amanah itu justru mengajarkan saya arti pengabdian, keikhlasan, dan cinta yang sesungguhnya.
Di tengah ribuan jamaah yang datang dari berbagai daerah di Indonesia, para jamaah lansia memberikan pelajaran yang tidak pernah saya temukan di ruang kuliah, buku, maupun pengalaman hidup sebelumnya. Mereka datang dengan keterbatasan usia, tenaga yang tak lagi kuat, langkah yang mulai melambat, dan kesehatan yang tidak lagi sempurna. Namun, mereka membawa satu hal yang luar biasa: keyakinan yang begitu besar kepada Allah.
Selama mendampingi jamaah lansia, saya tidak pernah menganggap mereka sebagai orang lain. Saya memandang mereka sebagai orang tua saya sendiri. Saya merasa sedang belajar menjadi seorang anak yang berbakti. Membantu mereka berjalan, mendampingi ibadah mereka, menenangkan kegelisahan mereka, hingga memastikan mereka dapat menjalankan rangkaian ibadah haji dengan baik.
Ada banyak hal yang saya peroleh dari mereka. Nasihat-nasihat sederhana, motivasi hidup, keteguhan hati, dan kesabaran yang luar biasa. Namun, ada satu hal yang menurut saya tidak dapat dibeli dengan apa pun di dunia ini, yaitu doa-doa mereka.
Saya masih mengingat dengan jelas seorang jamaah Safari Wukuf Lansia bernama Ibu Jumitun. Saat itu saya membantu membadalkan lontar jumrah beliau dan membantu proses tahalulnya. Bagi saya, apa yang saya lakukan hanyalah bagian dari tugas dan pengabdian.
Namun suatu hari, ketika saya bersama tim Safari Wukuf Lansia yang dipimpin oleh Bapak Suvianto mengunjungi kamar para jamaah, saya mendengar suara dari balik pintu.
“Nak, sini nak!”
Saya mendekat. Dengan wajah yang penuh kebahagiaan, Ibu Jumitun memperkenalkan saya kepada teman-teman sekamarnya.
“Ini yang badalkan jumrah saya.”
Kalimat sederhana itu membuat hati saya bergetar. Saya tidak pernah menyangka bahwa pertemuan yang hanya sekali mampu meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi beliau. Saat itu beliau memeluk dan mencium saya seperti anak kandungnya sendiri.
Di hadapan kasih sayang seorang ibu yang jauh dari keluarganya, saya menyadari bahwa pelayanan haji bukan hanya tentang membantu secara fisik. Pelayanan haji adalah tentang menghadirkan rasa aman, kasih sayang, dan perhatian kepada mereka yang sedang memenuhi panggilan Allah.
Ada air mata yang tidak terlihat. Ada kelelahan yang tidak diceritakan. Ada pengorbanan yang tidak diketahui banyak orang. Namun di balik semua itu terdapat keikhlasan yang menjadi bahan bakar pengabdian.
Saya percaya bahwa setiap dorongan kursi roda, setiap genggaman tangan, setiap langkah yang ditemani, dan setiap doa yang dipanjatkan oleh para jamaah akan menjadi amal yang terus mengalir.
Saya tidak mencari penghargaan. Saya tidak mengharapkan pujian. Saya hanya berharap bahwa suatu saat nanti, ketika Allah memanggil saya dan para malaikat bertanya:
“Apa amal yang engkau bawa?”
Mungkin saya tidak memiliki banyak jawaban. Mungkin amal saya sangat sedikit dibandingkan orang-orang saleh lainnya. Namun dengan penuh haru saya ingin menjawab:
“Ya Allah, saya pernah melayani tamu-tamu-Mu.”
Semoga di antara segala kekurangan dan dosa yang saya miliki, terdapat doa-doa para jamaah lansia yang menjadi saksi bahwa saya pernah berusaha mencintai tamu-tamu Allah dengan sepenuh hati.
Karena pada akhirnya, mungkin bukan langkah kita yang mengantarkan menuju surga, melainkan doa tulus dari mereka yang pernah kita layani.